Perjodohan Dini


Di beberapa daerah di sumenep ada sebuah tradisi unik yang sampai saat ini masih banyak dijumpai yaitu perjodohan dini, tak terkecuali Desa Lapa Taman. Yang membuatnya unik adalah perjodohan tersebut dilakukan oleh dua pihak yang masih memliki hubungan keluarga dan dilakukan di usia yang sangat muda bahkan ada yang masih dalam kandungan. Perjodohan antar dua keluarga tersebut memiliki tujuan agar hubungan antar keluarga tidak elang (hilang). 
Contoh dari perjodohan dini yaitu Lia dan Lala anak kepala desa Lapa Taman, Bapak Abu Huraira. Lia saat ini berusia delapan tahun dan masih duduk di bangku kelas dua sekolah dasar, Lia telah dijodohkan dengan kerabatnya yang bernama Agus. Sedangkan Lala masih berumur sekitar tiga tahun dan telah dijodohkan dengan kerabatnya yang bernama Daniel. Meski masih sangat muda tetapi mereka mengetahui bahwa telah dijodohkan. Contoh yang lain adalah tetangga belakang rumah Lia dan Lala, yaitu Azzam dan Holifah. Keduanya masih satu keluarga, rumahnya pun berdekatan. Azzam masih berumur satu tahun sedang Holifah masih berumur tujuh bulan tetapi keduanya telah dijodohkan. Menurut masyarakat desa Lapa Taman, sampai saat ini perjodohan dini antar kerabat tersebut banyak yang sampai ke jenjang pernikahan dan hanya sedikit yang tidak berlanjut sehingga perjodohan ini masih terus dilakukan dan menjadi tradisi yang cukup kuat di Desa Lapa Taman. Ketika dua orang yang dijodohkan telah beranjak dewasa dan salah satu dari mereka merantau keluar daerah baik untuk bersekolah maupun bekerja, orang tua sering kali mengingatkan agar tidak tertarik dengan orang lain dan tetap setia dengan bekal (tunangan)nya.  Selain keunikan dari perjodohan dini sendiri, ada keunikan lain dalam pelaksanaannya, yaitu kedua calon mempelai akan dinaikkan ke atas kuda kemudian diarak keliling desa dengan perayaan yang cukup meriah. Proses perjodohan dini melalui beberapa tahapan penting yang saling berhubungan satu sama lain, yaitu:
1.      Proses Meminta
Proses meminta dilakukan dengan cara pihak mempelai laki-laki membawa seserahan seperti kain, emas, kue dll ke rumah pihak mempelai wanita.
2.      Proses Melamar
Setelah proses meminta dilakukan, dilanjutkan dengan proses melamar yaitu pihak laki laki menggunakan seorang perantara untuk berbicara bahwa ingin meminang mempelai perempuan.
3.      Proses Membalas
Beberapa hari setelah proses melamar, pihak perempuan akan membalas seserahan kepada pihak laki-laki sesuai dengan seserahan saat proses meminta.
4.      Proses Perayaan
Puncak dari serangkaian proses perjodohan adalah proses perayaan yang ditandai dengan tanda’, persandingan pengantin, dan atraksi kuda.

Segala proses yang dilakukan dalam perjodohan ini cukup menelan banyak biaya seperti halnya sebuah pernikahan sungguhan. Tak hanya sampai disitu, setelah kedua mempelai diikat tali pertunangan maka sudah menjadi kewajiban pihak laki-laki untuk membelikan pakaian atau emas ketika hari lebaran. 

Terdapat keunikan lain di Desa Lapa Taman yaitu Apabila memiliki anak perempuan maka orang tuanya harus membangun rumah sekaligus perabotannya minimal tempat tidur dan lemari untuk tempat tinggal anak perempuannya di masa depan. Hal ini juga berlaku apabila memiliki anak perempuan lebih dari satu, maka orang tua harus membangun rumah sesuai dengan jumlah anak perempuannya. Kelak ketika anaknya sudah menikah maka ia akan tinggal dirumah tersebut bersama suaminya. Segala keperluan suaminya mulai dari makan, tidur dll ditanggung oleh mertua. Kecuali apabila pasangan suami istri tersebut keluar dari Desa Lapa Taman, maka segala tanggung jawab akan diemban sang suami seperti pada umumnya. Jadi seorang pemuda yang menikah dengan gadis desa Lapa Taman seperti mendapat durian runtuh yaitu keberuntungan yang besar. 

Comments

Popular posts from this blog

Cemara Udang dan Bonsai

Sejarah dan Asal-Usul Desa Lapa Taman